top
logo

Search

Facebook Image

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini34
mod_vvisit_counterKemarin130
mod_vvisit_counterMinggu ini546
mod_vvisit_counterBulan ini1942
mod_vvisit_counterTotal414066

Online (20 minutes ago): 4
Your IP: 54.224.150.24
Sekarang: 2018-10-18 07:41

Bioethanol Ubi Kayu Print E-mail

BIOETANOL UBI KAYU

Bioenergi yang Potensial
(naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi)
(sumber : SINAR TANI Edisi 27 Juni - 3 Juli 2007)

Setelah kelapa sawit dan jarak pagar, kini ubi kayu dilirik pula sebagai sumber energi alternatif. Ini merupakan peluang bagi peningkatan nilai tambah ubi kayu. Diantara beberapa jenis BBM, premium cukup dominan penggunaannya sebagai bahan bakar transportasi nasional. Pada tahun 2006, kebutuhan premium untuk transportasi didalam negeri sekitar 17 juta kiloliter (kl) dan angka ini akan terus bertambah sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, wilayah permukiman, perkotaan, dan infrastrukur transportasi.

Data penelitian menunjukkan bioetanol dapat digunakan sebagai bahan campuran premium hingga kandungan 20% dengan kadar oktan 10% lebih tinggi dibandingkan dengan premium murni dan tidak mempengaruhi kinerja mesin kendaraan. Dari beberapa sumber bioetanol, ubi kayu potensial dikembangkan sebagai bakan baku karena dapat diproduksi dalam jumlah yang besar pada berbagai agroekosistem.

Dalam Blue Print Pengelolaan Energi Nasional 2005 dijelaskan bahwa kandungan bioetanol sebagai bahan campuran premium adalah 10% (E10) yang terdiri atas 8% bioetanol ubi kayu,1 % bioetanol sorgum, dan 1 % bioetanol tebu. Implementasi Blue Print ini secara nasional akan berdampak terhadap penghematan penggunaan premium sebesar 1,47 juta kl pada tahun 2010 dan 4,97 juta kl pada tahun 2025, masing-masing setara dengan Rp 6,62 triliun dan Rp 22,37 triliun pada tingkat harga premium yang berlaku saat ini, Rp 4.500 per liter.

Jika penggunaan premium untuk transportasi meningkat dengan laju 7% per tahun, maka kebutuhan bioetanol pada tahun 2010, 2015, 2020, dan 2025 masing-masing 1,47 juta kl, 2,53 juta kl, 3,54 juta kl, dan 4,97 juta kl. Di sisi lain, produksi nasional ubi kayu dewasa ini baru mencapai sekitar 20 juta ton, sementara permintaan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri telah menembus angka 24,8 juta ton. Hal ini merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi upaya pengembangan ubi kayu dan industri bioetanol yang akan berdampak terhadap perluasan lapangan kerja.

Mengacu kepada Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang konsumsi energi biofuel lebih dari 5% pada tahun 2025, peningkatan produksi ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol dapat diupayakan melalui beberapa pendekatan: (1) pengembangan sistem produksi ramah lingkungan, (2) peningkatan kemitraan antara swasta dan pemerintah, (3) pemberdayaan masyarakat, dan (4) pengembangan teknologi hasil penelitan. Dalam operasionalnya, upaya peningkatan produksi ubi kayu dapat ditempuh melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi dalam bentuk "kebun energi" oleh pihak swasta/industri bioetanol. Program ini tentu perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Gubemur dan Bupati berperan penting dalam mengimplementasikan Inpres No. 1 Tahun  2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar aftematif untuk mendorong pengembangan kebun energi di daerah dengan memfasilitasi penyediaan lahan bagi pengembangan ubi kayu. Ditinjau dari segi teknis, finansial, dan ekonomi/industri, ubi kayu layak dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol. Dari segi teknis, kelayakan tersebut tercermin
dari adanya peluang peningkatan produktivitas ubi kayu dengan laju pertumbuhan 1,3-37,0% per tahun, tersedianya varietas unggul yang cocok dijadikan sebagai bahan baku industri bioetanol, terdapat lahan tidur dan lahan sawah tadah hujan yang sebagian besar hanya ditanami padi satu kali setahun dengan luas masing-masing 5,84 juta ha dan 1,2 juta ha.

Kelayakan finansial ditandai oleh rasio B/C 1,49 dan 1,98 pada tingkat hasil 15 ton dan 20 ton/ha dengan harga ubi segar di tingkat petani Rp 250/kg Kelayakan ekonomi/industri diindikasikan oleh tersebarnya sentra produksi ubi kayu di 55 kabupaten dan tingginya minat petani untuk mengadopsi teknologi produksi dan mengembangkan varietas unggul ubi kayu. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertani, telah menghasilkan beberapa varietas
unggul ubi kayu yang sesuai untuk produksi bioetanol dan teknologi budi dayanya. Kriteria varietas ubi kayu yang sesuai untuk bahan baku bioetanol adalah (1) berkadar pati tinggi, (2) potensi hasil tinggi, (3) tahan cekaman bi dan abiotik, (4) fleksibel dalam usaha tani dan UML panen. Dari 16 varietas unggul ubi kayu yang telah dilepas oleh Departemen Pertanian hingga saat ini Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5 memiliki karakter yang sesuai dengan
kriteria tersebut.

Selain itu, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan melalui Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian telah meneliti sejumlah klon ubi kayu dari aspek potensi hasil dan kadar pati. Dari 12 klon yang diteliti pada tahun 2006 terdapat tiga klon yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri bioetanol. Ketiga klon tersebut adalah CMM 99008-3, CMM 9908-4, dan Kaspro dengan hasil mencapai 21-31 ton/ha.

>> Puslitbang Tanaman Pangan 

 

Add your comment

Your name:
Your email:
Comment:
Joomla SEO powered by JoomSEF

Polling

Dari mana anda mengetahui website kami?
 

Google Translate

Ads by google


bottom
top

Ads by google


bottom